Selasa, 16 Desember 2014



PERAN MAHASISWA MENGHADAPI PASAR BEBAS ASEAN


MEA(Masyarakat Ekonomi Asean) adalah kerjasama bidang ekonomi tingkat ASEAN yang akan diberlakukan tanggal 31 Desember 2015. Dengan tujuan terciptanya aliran bebas barang, jasa, dan tenaga kerja terlatih, serta aliran investasi yang lebih bebas.
Kelebihan Indonesia:
·         Memiliki peluang besar
·         Pertumbuhan ekonomi tertinggi di ASEAN
·         Realisasi investasi Indonesia tertinggi
·         Pertumbuhan makro ekonomi meningkat
·         Rasio hutang Indonesia terhadap PDB cukup rendah
·         Indonesia termasuk dalam anggota G20
Kelemahan Indonesia:
·         Sinkronisasi program serta kebijakan antara Pemerintah Daerah dan Pusat
·         Mind-set masyarakat belum berkembang
·         Ketidaksiapan rakyat Indonesia
·         Indonesia masih butuh Industri untuk bisa mengolah sendiri  SDA yang dimiliki
·         Indonesia belum mampu menguasai kekayaan alam sendiri.
Peran mahasiswa sebagai pemuda penerus perjuangan Bangsa harus mempersiapkan diri dalam menghadapi pasar bebas ASEAN ini. Harus ada kesadaran dalam diri masing-masing, perlu berbenah. Karena, jika pemuda tidak bergerak maka Indonesia akan dikuasai oleh Negara lain. Pemuda harus mendukung Indonesia untuk dapat bertahan dalam persaingan pasar bebas.
Usaha yang dapat dilakukan para pemuda misalnya:
·         Menciptakan usaha sendiri.
·         Mensosialisasikan MEA dan mengajak kaum muda lain untuk meningkatkan daya wirausaha.
JANGAN jadi  PECUNDANG di NEGARA sendiri
JANGAN hanya jadi PENONTON
JADILAH PENGELOLA AGROBISNIS di NEGARA sendiri
·         Fokus  pada Pendidikan(minimal wajib belajar 12 tahun)
Upaya Pemerintah membangun sarana prasarana Pendidikan
TIDAK ADA KATA TERLAMBAT UNTUK MAJU.


SUKSESKAN PEMIRA

BANDAR LAMPUNG- BALAK PEMIRA (Badan Pelaksana Pemilihan Mahasiswa Raya) IAIN Raden Intan Lampung akan mengadakan PEMIRA pergantian kepengurusan DEMA periode 2014-2015 pada 15 Desenber mendatang. Acara ini akan digelar di Lapangan hijau Fakultas Tarbiyah.
Dani Mustofa (mahasiswa aktifis kampus) mengatakan “harapannya para mahasiswa dapat mensukseskan dan berpartisipasi dalam PEMIRA ini”. Dengan adanya PEMIRA di tahun 2014 ini, diharapkan mampu menghidupkan suasana dan memberikan kinerja atau berkontribusi untuk kampus serta dijadikan sarana untuk beramal, imbuhnya.
DEMA merupakan salah satu organisasi kemahasiswaan yang berperan sebagai Dewan Eksekutif Mahasiswa dengan mengemban tugas melantik ketua SEMA Fakultas, menyusun GBHO(Garis Besar Haluan Organisasi), bekerjasama dengan SEMA(Senat Mahasiswa) dalam penyusunan program kerja selama 1 periode pada siding Paripurna 1, serta meembahas tentang LPJ(Laporan Pertanggung Jawaban) SEMA Fakultas selama 1 Periode pada siding Paripurna ll.
PEMIRA(Pemilihan Mahasiswa Raya) dilaksanakan adalah dengan mengingat pentingnya regenerasi DEMA untuk menjaring pemimpin baru dikampus. Pada awal perkembangannya, DEMA dan SEMA ini sempat vakum dalam jarak 5 tahun yang lalu. Terjadilah pro dan kontra yang disebabkan karena adanya budaya IAIN yang masih baru dan regulasinya dalam tahap pengujian dan proses belajar. Seiring berjalannya waktu, dengan menimbang bahwa DEMA dan SEMA adalah miniature sebuah potret mahasiswa sebagai parlemen Institut maka Organisasi tersebut telah dihidupkan kembali.



IBU

Sebening tetesan embun pagi
Secerah sinarnya mentari
Bila ku tatap wajahmu ibu
Ada kehangatan di dalam hati ku

Air wudhu slalu membassahi mu
Ayat suci ini slalu dikumandangkan
Suara lembut penuh keluh dan kesah
Berdoa untuk putra putrinya

0h ibuku…….
Engkaulah wanita
yang ku cinta selama hidupku
maafkan anakmu bila ada salah

karya my friend










feature

Semangat selalu menghiasi wajahnya. Walaupun ia lelah, namun ia tak sedikitpun terlihat lelah. Tak pernah ia mengeluh apalagi berputus asa. Ia selalu menjalani pekerjaannya dengan sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab. Bakul yang berisi botol-botol menjadi senjatanya untuk mendapatkan rizki. Sepasang sandal jepit yang berwarna orange menemani langkahnya datang ke tempat ini. Ya di sini, di sebuah amben ini Waginem mendapatkan hasil keringatnya.
Waginem adalah seorang ibu berumur 39 tahun. Ia seorang bakul jamu. Ia menggeluti pekerjaan ini sejak tahun 1996. Ia bercerita bahwa kehidupan yang ia jalani di masalalu sangatlah pahit. Ketika itu, ia hidup hanya bersama ibu  dan  seorang putrinya. Karena pada saat itu ia seorang janda. Ia pernah berperan menjadi seorang ibu sekaligus seorang ayah bagi putrinya yang di tinggal ayahnya sejak masih berusia 40 hari. Namun semua itu tidak sedikitpun membuat ia rapuh. Ia terus yakin bahwa dibalik  semua  masalah pasti ada hikmahnya.
Ya inilah sekilas tentang sosok waginem. Ia seorang penjual jamu gendong  yang berjualan di pasar  Hanura, kecamatan Padang Cermin. “ Kalau waktu zaman dulu, saya jualan bukan cuma di sini, sorenya saya keliling ke desa-desa. Karena kalau dulu ini menjadi penghasilan pokok saya. Udah perjalananya jauh paling Cuma dapet  20 ribu. Waktu saya menjual jamu harganya beda sama sekarang. Kalau sekarang jamu satu gelas dua ribu. Nah kalau jaman dulu satu gelas jamu masih 500 perak. Tapi berapapun yang saya  dapat, saya bersyukur sama Allah karena masih ngasih rezeki yang halal buat saya dan keluarga.” Ujar Waginem.
Ketika mentari baru menampakkan sinarnya, ketika itulah Waginnem memulai pekerjaannya. Tepatnya  pukul 06:00  WIB. Dan pulangnya sekitar pukul 12:00  WIB.Kini pekerjaan yang ia jalani tidak lagi menjadi mata pencaharian pokok. Karena sejak tahun 2004 ia memiki kehidupan baru, hingga sekarang ia memiliki 3 orang anak. Suaminya adalah seorang penjual bakso. Namun Waginem tetap menjalani pekerjaannya. Kini penghasilan yang didapat oleh waginem mencapai 200 ribu per hari.
Usaha yang Waginem tekuni kini membuahkan hasil. Keinginan untuk membiayai putrinya hingga ke Perguruan Tinggi kini terwujud. “ Saya gak papa hidup susah, tapi saya gak mau kalau anak saya susah kayak saya. Anak saya harus hidup makmur. Cukup saya aja yang ngersain pahitnya hidup”. Ujar Waginem dengan tersenyum namun terlihat bola matanya berkaca-kaca. Siapa sangka seorang bakul jamu dapat membiayai anaknya hingga Perguruan Tinggi. Semua itu berkat keinginan dan kerja kerasnya.


Realita Kehidupan

Diantara gedung-gedung menjulang tinggi, ditengah-tengah hiruk pikuk keramaian kampus yang asri, sosok wanita separuh baya melintas dihadapanku..sembari membawa bakul dan ember kecil ia terus berjalan melewati gedung satu hingga gedung yang lainnya. Senyuman indah dan sapaan ramah terpancar dari bibirnya, sambil menjajakan makanan yang ia bawa. Sambil menunggu para pembeli wanita itu menyandarkan tubuhnya, mengelap keringat yang membanjiri wajahnya sambil kipas-kipas mencari oksigen untuk menyegarkan tubuhnya...sepertinya ia tampak lelah...Kuamati wajahnya, kutatap sayup-sayup kedua matanya yang begitu bersahaja...pakaian biru yang melekat ditubuhnya dibasahi keringat karena terik matahari yang begitu menyengat. Memang cuaca saat itu kurang mendukung, matahari semakin garang memuntahkan panasnya.
 Hatiku merasa iba, dan rasanya ingin bergerak untuk mengetahui seluk-beluk tentangnya...akhirnya kucoba mendekati wanita itu, ternyata...wanita itu bernama Bu Marni. Ibu dari tiga anak ini adalah sosok wanita yang tangguh. Ia rela bekerja banting tulang, berjualan kesana-kemari, berangkat pagi pulang petang hari, dari terbitnya sang surya mentari pagi hingga sang surya kembali pada peraduan.
Semua itu ia lakukan demi menghidupi keluarganya hingga anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan. Ia tak pernah putus asa dan patah semangat. Ia tak kenal lelah dan letih. Kesedihanpun sering ia alami, tat kala makanan yang telah ia jajakan tak laku hingga akhirnya ia bawa pulang lagi. Ia sadar banyak sekali saingan dalam berdagang.
Mungkin gorengan dan empek-empek yang ia buat tak selezat yang dijajakan oleh orang lain. Namun sosok wanita seperti Bu Marni tak pernah mengeluh dan menyerah. “rejeki itu Allah yang ngatur nduk, ungkapnya padaku”.
Hatiku terasa ngilu mendengar kisah dan realita kehidupan yang dijalani oleh Bu Marni. Rasanya dada ini sangat sesak dan ingin meluapkan tangisan menderu-deru, rasa iba yang muncul dalam diriku,,tak terasa butiran bening mengalir dari kedua pipiku. Kupejamkan mata dan kubiarkan butiran bening ini menetes kebumi, sebagai saksi bahwa aku terharu dengan penderitaan yang ia alami.
       Bu Marni tengah menceritakan perjalanan hidupnya semenjak lima tahun silam ditinggal suaminya, ia lah yang memposisikan diri menggantikan peran almarhum suaminya dalam mencari nafkah menghidupi keluarga.
Hidup merupakan sebuah tantangan bagi siapa saja yang menjalaninya. Tak kenal lelah dan putus asa dan terus maju. Langkah niatnya selalu diiringi harapan dan do’a. Semangat dan kegigihannya dilandasi dengan tujuan dan kemauan yang kuat . Itulah prinsip Bu Marni.